sirimiri

A light rain dropped early dawn
The sun slowly touched your lawn
I'm walking, leaving you down
1 / 30 »

NANYA 

Aku kerap kali bertanya, seperti apa sakitnya tinggal di neraka berlama-lama. Seperti apa sakitnya, sehingga ‘sakit level dunia’ bahkan tidak ada apa-apanya. Padahal perkara dikhitan yang hanya diiris sedikit saja, KATANYA, menyakitkan. Karena sakit gigi saja bisa meraung-raung semalaman. Itu masih sebatas ‘raga’, belum lagi sakit mental, jiwa, dan perasaannya. Saat di dunia, trauma masa lalu bisa membuat gila. Apa jadinya nanti saat malaikat penjaga neraka membaca daftar dosa-dosamu tepat di mukamu dengan suara melengkingnya yang meledakkan telinga dan terus menerus tiada habisnya karena dosamu yang sampai 8386475869826786487472746……. turunan. Apa jadinya?
.
Aku juga kerap bertanya, bagaimana rasanya tinggal di lubang gelap, sempit, sesak, lembab, dan bau? Seorang diri saja? Bagaimana rasanya mendengar derap kaki orang terakhir meninggalkan pusaramu, lalu dua malaikat datang dan mulai mencambukimu? Bagaimana apabila berjuta alasan yang siap kau jawabkan harus kau telan sendiri mentah-mentah, sementara sekujur tubuhmu mulai mengadukan perbuatanmu pada dua tamumu? Bagaimana?
.
Sedari kecil, aku diajarkan untuk mempersiapkan segalanya untuk menghadapi dua pertanyaanku, dua ketakutanku. Aku juga diajarkan tentang surga, puncak kenikmatan abadi, di mana kerjamu hanya bersenang-senang tanpa pernah merasa lapar dan haus, susah dan sedih, pun lelah dan marah. Namun aku jarang sekali mempertanyakan seperti apa, bagaimana rasanya berada di surga. Mungkin karena aku merasa lebih dekat kepada neraka.
.
Aku percaya sepenuhnya pada hari akhir. Aku yakin akan keberadaan hari kebangkitan. Aku tak pernah menyangsikan kebenaran penghitungan saat hari pembalasan. Namun, aku hanya tak percaya pada diriku sendiri. Betapa tidak, jika yang kupikirkan hanya tentang neraka dan surga, salah dan benar, dosa dan pahala. Padahal, bukankah itu semua, sepenuhnya hak Tuhanku saja? Aku terlalu mengkhawatirkan rasa sakit dan takut sehingga mengesampingkan ketaatan padaNya. Jangan-jangan ibadahku hanya untuk surga atau nerakaNya, sekadar perhitungan untung dan rugi belaka. MAKA JANGAN-JANGAN AKU BERTUHAN PADA KETAKUTAN DAN KESEDIHAN! Rumit bukan? Menjadi taat saja penuh persoalan apalagi yang secara kasat mata tak taat.
.
Sampai titik ini, aku tiada hentinya mempertanyakan, bagaimana menjadi manusia yang benar.

.

?



LAMA 

Selamat sepertiga-akhir-malam!

Ini tulisan kedua sejak… sejak blog ini inaktif hingga di-unfollow masal ribuan orang dan hanya menyisakan bilangan juz Al-qur’an -dikali dua dikurang akar dari lima ratus dua puluh sembilan. Bohong? iya maaf, memang tak pernah ada ribuan followers cuma milyaran pengunjung. Bohong? Lah, siapa tau? Wallahua’lam, rahasia Tuhan itu mah. Aku sih posthink aja, wkwkwk.

Empat bulan, ya, empat bulan aku pergi, pergi dalam artian hiperbolik karena sesungguhnya aku tak pernah pergi, hanya berdiam diri -dan wukuf di padang arafah *yakali, emang rukun haji*. Sudah empat bulan sejak pulang ke rumah dan memingit diri sembari terus melantunkan doa-doa ke langit dengan pengharapan yang banya~k sekali, sebanyak cabe-cabean di muka bumi, hahahaaaaahhh pedaaas!!! Aduh, susah serius nih padahal aku biasanya serius. Banget. Ga percaya? Kepoin aja tulisan-tulisan aku, sok di-scroll ke bawah, bawah banget sampe mentok! *duhai, ngarep dikepo banget*.

Nanti di tulisan-tulisan berikutnya akan kujelaskan arti empat-bulan-dalam-diam-ku. Mengapa harus kutulis? Karena aku sanga~t rindu menulis. Aku gatal mulai menulis lagi walaupun ya…. wa lau pun betapa tidak pentingnya tulisanku, betapa luluh dan lantak kalimatnya, betapa sakit mata siapapun yang kemudian membacanya, setidaknya aku melahirkannya. Maka walaupun ia tidak bermata-dua, tidak memanggilku Ibu, dan selamanya dianggap bisu, ia tetap anak bagiku.

Aku mulai memikirkan banyak hal, salah satunya adalah tentang menjadi tua kelak. Entah sampai atau tidak, aku selalu menginginkannya melebihi keinginanku menjadi orang yang sukses saat ini. Aku meramalkan masa tuaku memandang laut saat petang, sendirian. Anak dan cucuku bercanda di rumah, suamiku mungkin telah pergi lebih dulu. Seiring matahari terbenam aku melihat banyak sekali kenangan, yang pahit dan yang legit. Aku melihat banyak hal, memahaminya, melihat lagi, belajar banyak darinya. Aku telah renta dan kerjaku hanya berbicara sambil diam, bertanya banyak hal kepada Tuhan. Satu yang kucitakan, mendapati Tuhan hingga ke pori-pori kulitku yang keriput. Aku ingin menjadi tua lalu mati begitu saja saat petang dengan memahami banyak hal. Hal yang -aku takutkan- tak akan kupahami bila mati muda -karena aku sangat-sangat lambat belajar-. Namun, entahlah. Entah sampai atau tidak.

Sampai saatnya nanti -entah sampai kapan- aku tak ingin berhenti menulis. Aku sangat takut menjadi lupa dan pikun. Namun bila itu harus, paling tidak aku harus tetap pandai membaca. Membaca tulisan-tulisanku sendiri dan menemukan aku yang… bisa jadi memalukan, menjijikkan, menggelikan, atau bahkan mengagumkan *haha*. Mungkin akan butuh waktu lama sampai saat itu tiba. Namun bisa jadi akan butuh waktu yang sangat-sangat-sangat lama. Se-lama judulnya. :)

.

rumah, sekitar 12,200 km jauhnya dari Emirates Stadium, 45 menit menjelang Arsenal versus Bayern Munchen.

image


7 months ago 0 notes

PETANG RABU MALAM 

Malam,

Ya, ini malam seperti di Sidakalang

Entah di mana itu Sidakalang, atau Cidanghiang

Mungkin pernah kubaca di sore yang petang

/

Petang,

Petang akan gelap

Langit-langit dan langit bertukar tempat

Selangit pekat, langit-langit gemerlap

Terus berangsur, pula Rabu dan Jumat

/

Rabu,

Aku tak pernah membantah Ibu

Mungkin karena aku lahir dari dulu

Bukan minggu atau tahun lalu

Tetapi aku terlalu rindu Ibu

Bila dia rindu aku


7 months ago 0 notes

Aku sulung dengan dua adik laki-laki

Aku tidak selalu lebih dewasa daripada mereka

Tapi -setidaknya- aku mengerti beberapa hal

Aku yang harus lebih besar kesabarannya dari mereka

Aku yang harus mengalah lebih sering untuk mereka

Aku yang harus berdiri paling kuat di antara mereka

dan

Aku yang harus rela menjadi tempat mereka pulang

Sederhana

Sesederhana saat kami makan

Akulah yang selalu mengambil bagian terakhir dari makanan kami

Ibarat roti

Maka untukku cukup remahnya


11 months ago 0 notes


1 year ago 0 notes

pleatedjeans:

endless origami


1 year ago 276,956 notes ©

"Don’t judge everyone else by your own limited experience." —- Carl Sagan, Contact (via thingssheloves)


1 year ago 21,365 notes ©

4gifs:

Predator breakfast. [video]

kapan2 nyobain ah xD

4gifs:

Predator breakfast. [video]

kapan2 nyobain ah xD


1 year ago 148,715 notes ©

Pagi terlalu dingin diintip dari setiap celah

Dikepung di setiap ujung, berarah ke satu arah

Tetap saja tak pasti memang

Tuhan, aku selalu ingin malam yang lebih panjang


1 year ago 0 notes


1 year ago 11,046 notes ©

STEFERINE
Flag Counter