Sesungguhnya mulut harus berhati-hati kepada telinga, atas dua hal dan dalam dua keadaan:
-as though you’re a trigger, watch out, tiger-
katanya, kalau ingin tampan setengah mati atau cantik bak bidadari cukup dengan pil putih dan kawat gigi.
-riset abalabal, maaf rasis-
kenakan perisai dan tempalah pedang, karena kau tiada berdiam melainkan di tengah perang
….
Ada alasan atas setiap tindakan seseorang, bahkan yang spontan sekalipun. Mengapa si mbak A selalu terlihat ceria, mengapa om B doyan melipat muka, atau mengapa bapak C gemar bertingkah bak anak muda. Setiap perilaku mereka beralasan, namun tidak semua dapat dijelaskan bahkan ditemukan. Jika seseorang tak dapat menjelaskan ‘mengapa’ di balik perbuatannya, itu bukan karena ‘tidak ada’ melainkan ‘tidak tahu’ atau ‘tidak dapat tahu’. Dengan usaha yang hampir genap sekalipun, tidak ada penjamin seseorang untuk bertemu dengan setitik jawaban atasnya. Gulailah laut hingga legit, belum tentu ia akan turun dari langit.
Tentang alasan itu, satu-dua di antara kita pandai sekali menerka. Tidak perlu ijazah dan izin praktek atau belajar tentang kejiwaan berlama-lama, dengan mudah seseorang akan menerka lalu membuat kepastian atas alasan itu. DUH SO TOY DEH LU, GW JUGA SIH. Jangankan yang sekedar me-reka-reka *nunjuk diri sendiri juga* yang udah hidup-mati sama ilmu kejiwaan pun masih saja bisa luput. Sepandai-pandainya manusia membaca manusia, tetap saja yang mutlak masih milik penciptanya. Duh, hati manusia siapa yang tahu.
Alasan yang berupa-rupa, yang tak semuanya bisa terbaca itu sejatinya adalah perpanjangan dari cara bertahan manusia. YG INI GW SO TOY JG KOK. Bertahan atas apa? Ya atas hidup ini, atas keadaan mereka masing-masing. Si mbak A selalu ceria karena dia orang yang selalu bersyukur walau tak kaya, misalnya. Om B bermuka kusut karena suka iri hati walau punya segalanya, atau bapak paruh baya C bergaya muda karena dia memang tak lagi muda (tidak ada anak yang memang muda yang dibilang bergaya muda kan…).
Ada contoh yang lain. Tiga orang, sebut saja D, E, dan F sama-sama pemalu. Namun, mereka punya perilaku yang berbeda; D selalu menyendiri dan cenderung menutup diri, E bersusah payah bicara di muka kelas walau gugup setengah mati, sedangkan F sibuk menyoraki padahal jika disuruh mengganti, ia bisa mati berdiri.
Lihat, atas keadaan yang sama sekalipun setiap orang punya cara yang berbeda untuk bertahan. Jika disimpulkan, sekali lagi dengan sotoynya, perilaku yang berbeda berasal dari pilihan mereka; membiarkan, mengatasi, atau lari. Sedangkan pilihan itu datang dari pandangan mereka atas sebuah akhir. Akhir yang mana? Entah, akhir bisa yang mana saja, bukan?
Jika diibaratkan, setiap orang tengah sibuk bertahan dengan perisai dan pedang di tengah perang. Yah, walau sebagian terkadang lebih suka menyerang.
…
Tanpa diminta dan dihiba, perisai dan pedang itu telah kau kenakan. Namun, perisai dan pedang yang mana yang engkau miliki tergantung pada apa yang kau yakini. Tentu saja, kau akan nyaman dengannya walau belum tentu kau akan baik-baik saja memakainya, selamanya. Sayang, ada saatnya kau mematut dan menimbang, apakah perlu kau berganti perisai-pedang. Ingat, ini masih perang.
…
Dan, masih dengan menunduk dan berpaling, betapa ku menggemari cara ini.
-sweet, see you in battle-
wuoooo… untung aku makan dagingnya setaun sekali pas lebaran haji <( ‘v’ )> *bohong, diseruduk sapi kurban*
Hal yang sangat aku takutkan adalah bayaran yang sepadan atas usaha-usaha dan lunasan yang setimbang dengan doa-doa
…
karena kekerdilanku.
Last night she talked to the empty sheet as she always talks and stares at the monitor, mirror, and the draft on her phone. She’s talking but muted. She’s seeing but unseen. She’s touching but untouched. But she did exist.
She’s unread. She’s the thing you can’t arrived at even by roaming around her. So she’s not your destiny even if she want. She’s the farthest future that lying in your arms. But she want to stay exist.
She doesn’t understand her.
I mean… She’s too much complicated even for her itself. Even to think you’ve understood, don’t you dare, you’re not even a little bit into her. So, just remember her of being too shy yet too brave, a coward yet a hero.
She could be your sin and blessing all at once.
Tomorrow she’ll talk to the empty sheet as she always talks and stares at the monitor, mirror, and the draft on her phone. I bet she’ll not understand